Hang Nadim

December 29th, 2007 by ayam-beranak
Pada suatu ketika dahulu Singapura
telah diserang ikan todak. Secara tiba-tiba, beratus-ratus ikan todak
melompat ke arah pantai Singapura dan menikam ramai rakyat Singapura
yang sedang berada di tepi pantai. Ramai rakyat Singapura mati terkena
tikaman todak.

Raja Singapura amat terperanjat
dengan berita serangan todak ini. Baginda pun pergi ke pantai untuk
melihat sendiri malapetaka yang telah menimpa negerinya. Baginda berasa
sedih melihat ramai rakyatnya dibunuh ikan todak. Bagi mengatasi
masalah ini, baginda memerintahkan rakyatnya berkubukan betis di
sepanjang pantai. Malangnya, lebih ramai rakyat yang mati apabila terus
diserang ikan todak.

Seorang budak yang bijak
bernama Hang Nadim telah menyaksikan serangan kejam ikan todak ini.
Hang Nadim mempunyai satu akal untuk melawan serangan ikan todak ini.
Tanpa berlengah, Hang Nadim pergi mengadap Raja Singapura.


Tuanku, patik rasa jika kita terus menyuruh rakyat menggunakan betis
mereka untuk mengelak serangan ikan todak, lebih ramai rakyat yang akan
mati,” sembah Hang Nadim mengadap Raja.
   

“ Adakah kamu mempunyai cadangan yang lebih baik ? “ tanya Raja Singapura.         

“ Patik rasa adalah lebih baik jika kita menggunakan batang pisang untuk melawan serangan ikan todak ,” tambah Hang Nadim.         

“ Batang pisang ? Bagaimana ? “, tanya Raja dengan penuh hairan.         


Kita boleh menggunakan batang pisang sebagai kubu sepanjang pantai.
Apabila ikan todak menyerang, jongor todak akan terlekat pada batang
pisang. Apabila ikan todak ini sudah terlekat, rakyat sekalian boleh
menetaknya hingga mati, “ tambah Hang Nadim.
         

Apabila
kata-kata Hang Nadim didengar oleh Raja Singapura, baginda sedar akan
kebenarannya. Tanpa berlengah, baginda memerintahkan rakyatnya agar
menggunakan batang pisang untuk dijadikan kubu. Nescaya, buah fikiran
Hang Nadim itu berjaya. Ikan todak berjaya ditewaskan dan negeri
Singapura akhirnya terselamat.
         

Raja Singapura berasa
sungguh gembira dan menghadiahkan Hang Nadim dengan sebuah hadiah yang
sungguh istimewa. Baginda bersyukur kerana negeri Singapura dikurniakan
dengan seorang budak yang sungguh bijak.
         

Malangnya,
para pembesar negeri sangat iri hati dan dengki dengan kebijaksanaan
Hang Nadim. Mereka khuatir Hang Nadim akan mengambil tempat mereka
sebagai penasihat Raja.
         

“ Budak ini masih kecil
tetapi sungguh bijak. Apabila dia besar nanti, tentu akan menjadi lebih
bijak. Patik yakin Raja akan mengambilnya sebagai penasihat baginda,”
kata Perdana Menteri kepada para pembesar negeri yang lain.
         

“ Hang Nadim mesti dibunuh! Patik akan memujuk Raja untuk membunuhnya,” tambah Perdana Menteri dengan marahnya.       
Para
pembesar negeri pun bersepakat untuk menghasut Raja agar membunuh Hang
Nadim. Mereka menasihati Raja agar membunuh Hang Nadim yang cerdik itu
kerana takut apabila besar dia akan menjadi lebih cerdik. Mereka terus
menyakinkan Raja jika Hang Nadim menjadi lebih pintar daripada Raja,
nescaya mahkota Raja Singapura akan cuba dirampasnya.
         

Setelah
mendengar hasutan para pembesar negerinya, Raja Singapura pun
menjatuhkan hukuman bunuh ke atas Hang Nadim. Hang Nadim diikat dengan
rantai besi lalu dibuang ke laut. Ramai rakyat Singapura berasa sungguh
sedih dengan kematian Hang Nadim yang telah menyelamatkan Singapura
dari serangan todak.
         

who’s the band ?

March 3rd, 2007 by ayam-beranak

Oh lord,
our music industry is [still] dominated by the typical soft pop rock hey-girl-look-at-me-i-am-so-handsome kinda bands.
Its so fricking boring.
All they sing about is ”I love you you love me” stuff.
And the funny thing is, some of them dressed more punkrock than us!
Spikey-coloured-hair, Motley Crue Tshirt, fake tattoos [probably fake], leather pants, metal-loaded expensive boots. Crazy.
The radio and TV worship them and people in general are dying to buy their music.
I mean, when can Indonesia will have a smarter and stand-up-for-themself generation if all they see, hear and sing is tacky love songs that has no point other then to sell millions records so the band can get rich and be on TV all the time.
Indonesian music industry is all about money, fashion and fame.
They dont give a damn about what is really goin on in this country.
Pure cold business. Its sad. Very very sad….

Lrg2411

SUPERMAN IS DEAD

surat dari Che Guevara untuk kawan-kawan anti kemapanan

February 17th, 2007 by ayam-beranak

Kami percaya bahwa perjuangan revolusioner
adalah suatu perjuangan yang sangat panjang, sangat sulit. Sulit,
tetapi jelas tidak berarti mustahil, bahwa suatu kemenangan revolusi di
suatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja.

(Che Guevara)

Kalau
aku boleh memilih untuk berjuang, mungkin saat ini aku ingin tinggal
bersama kalian. Melewati jalanan yang padat lalu lintas, dengan
iring-iringan spanduk yang panjang, kalian ketuk nurani para penguasa.
Kaum yang berbaju megah, berkendaraan bagus dan punya mobil mengkilap.
Kalian pertaruhkan segalanya, kesempatan untuk hidup senang, kemapanan
pekerjaan, dan sekolah yang kini kian mahal. Buang segala teori sosial
yang ternyata tak bisa membaca kenyataan. Keluar kalian dari
training-training yang pada akhirnya tidak membuat kita paham dan mau
membela orang miskin. Kupilih tinggal serta berjuang di hutan karena di
sana aku kembali mendengar rintih dan suara orang yang hidupnya
menderita.

Andaikan aku masih diberi kesempatan untuk kembali ke
negerimu pastilah aku enggan untuk duduk di kursi. Akan aku habiskan
waktuku untuk mengelilingi kotamu yang padat dengan orang miskin. Akan
kusapa setiap anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk
mendapat uang receh. Akan aku datangi para nelayan yang kini lautnya
dipenuhi oleh pipa-pipa gas perusahaan asing. Akan kubantu para buruh
bangunan yang menghabiskan waktunya untuk memanggul alat-alat berat.
Dan akan kutemani para buruh pabrik yang masih saja diancam oleh PHK.
Tentu aku akan mendatangimu anak muda, yang resah dengan kenaikan BBM
atau proyek pendidikan yang kian hari kian mahal. Kurasa aku tidak bisa
istirahat jika tinggal di negerimu.

Kalau aku boleh memilih untuk
melawan, mungkin sekarang ini aku akan duduk bersama kalian. Aku akan
bilang kalau perjuangan bukan saja melalui tulisan, puisi, buku,
apalagi setajuk proposal! Perjuangan butuh keringat, pekikan suara, dan
dentuman kata-kata. Kita bukan melawan seekor siput tapi buaya yang
akan menerkam jika kita lengah. Hutan rimba mengajariku untuk tidak
mudah percaya pada mulut-mulut manis. Hutan rimba mendidikku untuk
tidak terlalu yakin dengan janji. Aku sudah hapal mana tabiat srigala
dan mana watak kelinci. Kalau kau baca tulisanku, mustinya kau bisa
meyakini, kalau kekuasaan hanya bisa bertahan selama kita mematuhinnya.
Kekuasaan bisa bertahan selama mereka mampu menebar ketakutan. Dan aku
sejak dulu dididik untuk selalu sangsi dan curiga pada penguasa!

Kalau
aku bisa memilih, mungkin sekarang aku ingin berjalan dengan kalian.
Menonton orang-orang pandai berdebat di muka televisi atau aktivis yang
melacurkan keyakinannya. Ngeri aku menyaksikan orang-orang pandai yang
berbohong dengan ilmunya. Sederet angka dibuat untuk membuat orang
percaya bahwa si miskin makin hari makin berkurang. Menonton aktivis
senior yang kini juga berebut untuk duduk jadi penguasa. Katanya: di
dalam kekuasaan tidak ada suara rakyat maka kita mengisinya. Aku
bilang, itulah para pembual yang yakin jika perubahan bisa muncul
karena kita duduk di belakang meja. Demokrasi acapkali berangkat dari
dalil yang naif seperti itu. Aku sayangnya tak lagi bisa memilih, untuk
berdiri dan berbincang dengan kalian semua.

Anak muda, aku telah
tuliskan puluhan karya untuk menemanimu. Dibungkus dengan sampul
wajahku, yang tampak belia dan mungkin tampan, aku tuangkan pesan
kepada kalian. Keberanian yang membuat kalian akan tahan dalam situasi
apapun! Hutan melatihku untuk percaya kalau kemapanan, kenikmatan
badaniah, apalagi kekayaan hanya menjadi racun bagi tubuh kita.
Kemapanan membuat otakmu makin lama makin bebal. Kau hanya mampu
mengunyah teori untuk disemburkan lagi. Kemapanan membuat hidupmu
seperti seekor ular yang hanya mampu berjalan merayap. Kekayaan akan
membuat tubuhmu seperti sebatang bangkai. Hutan melatihku untuk
menggunakan badanku secara penuh. Kakiku untuk lari kencang bila musuh
datang dan tanganku untuk mengayun pukulan jika aku diserang. Anak
muda, nyali sama harganya dengan nyawa. Jika itu hilang, niscaya tak
ada gunanya kau hidup!

Keberanian itu seperti sikap keberimanan.
Jika kau peroleh keberanian maka kau memiliki harga diri. Sikap
bermartabat yang membuatmu tidak mudah untuk dibujuk. Hutan membuatku
selalu awas dengan ketenangan, kedamaian, dan cicit suara burung. Hutan
melatihku untuk sensitif pada suara apa saja. Jangan mudah kau terpikat
oleh kedudukan, pengaruh, dan ketenaran. Kedudukan yang tinggi akan
membuatmu seperti manusia yang diatur oleh mesin. Kutinggalkan jabatan
menteri karena hidupku menjadi lebih terbatas dan ruang sosialku
dipenuhi oleh manusia budak, yang bergerak kalau disuruh. Apalagi
ketenaran hanya akan mendorongmu untuk selalu ingin menyenangkan semua
orang, membuat lumpuh energi perlawananmu. Ingat, racun segala
perubahan ketika dirimu merasa nyaman.

Rasa nyaman yang kini
kusaksikan di sekelilingmu. Anak-anak muda yang puas menjadi pekerja
upahan sambil menyita tanah sesamanya. Ada anak muda yang duduk di
parlemen malah minta tambahan gaji! Anak muda yang lain dengan
tenaganya menyumbangkan diri untuk menjadi preman bagi kekuasaan
bandit. Bahkan pendidikan hukum mereka gunakan untuk membela kaum
pengusaha ketimbang orang miskin. Anak-anak muda yang banyak lagak ini
memang tidak bisa dibinasakan. Mereka hidup karena ada kemiskinan,
keculasan kekuasaan, dan lindungan proyek lembaga donor. Aku enggan
untuk berjumpa dengan anak muda yang hanya mengandalkan titel,
keperkasaan, dan kelincahan berdebat. Aku ragu apakah mereka mampu
serta sanggup untuk melawan arus.

Arus itulah yang kini
menenggelamkan nyali kita semua. Murah sekali harga seorang aktivis
yang dulu lantang melawan, tapi kini duduk empuk jadi penguasa. Murah
sekali harga idealisme seorang ilmuwan yang mau menyajikan data bohong
tentang kemiskinan. Murah sekali harga seorang penyair yang mau
rame-rame mendukung pencabutan subsidi. Aku gusar memandang negerimu,
yang tidak lagi punya ksatria pemberani. Seorang kstaria yang mau hidup
dalam kesunyian dan dengan gagah meneriakkan perlawanan. Tulisan adalah
senjata sekaligus bujukan yang bisa menghanyutkan kesadaran perlawanan.
Kau harus berani mempertahankan nyalimu untuk selalu bertanya pada
kemapanan, kelaziman, dan segala bentuk pidato yang disuarakan oleh
para penguasa.

Yang kauhadapi sekarang ini adalah sistem yang
kuncinya tidak terletak pada satu orang. Kau berhadapan dengan dunia
pendidikan yang menghasilkan ilmu tentang bagaimana jadi budak yang
baik. Kau kini bergulat dengan teman-temanmu sendiri yang bosan hidup
berjuang tanpa uang. Kau sebal dengan parlemen yang dulu ikut kau
pilih, tetapi kini tambah membuat kebijakan yang menyudutkan rakyat.
Kau perlahan-lahan jadi orang yang hanya mampu melampiaskan kemarahan
tanpa mampu untuk merubah. Kau kemudian percaya kalau pemecahannya
adalah melalui mekanisme, partisipasi, dan dukungan logisistik yang
mencukupi. Kau diam-diam tak lagi percaya dengan revolusi. Kau yakin
perubahan bisa berjalan kalau dijalankan dengan berangsur-angsur dan
membuat jaringan. Gerakanmu lama-lama mirip dengan bisnis MLM.

Saudaraku
yang baik! Hukum perubahan sosial sejak dulu tidak berubah. Kau perlu
dedikasikan hidupmu untuk kata yang hingga kini seperti mantera: lawan!
Lawanlah dirimu sendiri yang mudah sekali percaya pada teori perubahan
sosial yang hanya cocok untuk didiskusikan ketimbang dikerjakan.
Lawanlah pikiranmu yang kini disibukkan oleh riset dan penelitian yang
sepele. Kemiskinan tak usah lagi dicari penyebabnya tapi cari sistem
apa yang harus bertanggung jawab. Ajak pikiranmu untuk membaca kembali
apa yang dulu kukerjakan dan apa yang sekarang dikerjakan oleh gerakan
sosial di berbagai belahan dunia. Gabungkan dirimu bukan dengan LSM,
tapi bersama-sama orang miskin untuk bekerja membuat sistem produksi.
Tak ada yang bermartabat dari seorang anak muda, kecuali dua hal:
bekerja untuk melawan penindasan dan melatih dirinya untuk selalu
melawan kemapanan.

Che_guevara
Viva_la_revolucion

 

Kaum Pergerakan, Lakukan Perlawanan!

February 17th, 2007 by ayam-beranak

Bencana ternyata tak bisa dihentikan. Ribuan penduduk kini menetap
di tenda-tenda. Ada beberapa orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya
dengan bunuh diri. Mereka tak lagi tahu harus bersikap seperti apa;
ketika rumah roboh dan bantuan tak pernah jelas maka hidup bukan hal
mudah untuk dilanjutkan. Beberapa aktivis hukum mulai melontarkan
somasi pada pejabat yang berbohong. Jawaban si pejabat tak kurang
tangkas: saya tak pernah bohong dan bantuan tetap diberikan walau
jumlahnya lebih kecil. Alibi dan dalih mulai dikucurkan untuk menutupi
semua kenyataan keji. Itulah nasib rakyat: dari dulu sampai kini hanya
menjadi tumbal. Karena tumbal itulah maka musibah selalu dibaca sebagai
bagian dari kehidupan yang membuat manusia tak bisa berkelit. Ketika
sebuah musibah datang, yang dituntut bukan tanggung jawab melainkan
sikap ikhlas dan lapang. Ini bukan hanya sikap naif tapi sesat.

Kesesatan
yang membuat pemerintah memutuskan untuk menaikkan upah parlemen. Sesat
pulalah yang membuat pemerintah memutuskan untuk menambah gaji ke -13.
Seolah-olah pemerintah bukan berdiri diatas kepentingan rakyat tapi
kepentingan para pejabatnya. Makanya kita jadi terkejut ketika
pemerintah bilang bahwa siswa yang tak lulus ujian adalah anak bodoh.
Apakah siswa itu bodoh kalau bertahun-tahun sekolah tapi hanya tiga
mata pelajaran yang diujikan? Dimana sebenarnya letak kebodohan tatkala
dunia pendidikan tidak memahami dan menghargai proses. Tiba-tiba
kurikulum diubah dan diputuskan tanpa memahami konsekuensi yang timbul.
Pemerintah terlanjur untuk tidak menghiraukan beda tajam antara
keputusan dengan konsekuensi. Akibatnya kemudian jadi tampak
mengenaskan: kita diminta untuk mengulang-ulang musibah. Kita jadi
seperti yang dikatakan oleh pejabat pemerintah, anak bodoh yang
peluangnya hanya mengulang soal-soal ujian.

Kita jadi putus
harapan menyaksikan kenyataan suram ini. Ide-ide perubahan sosial yang
muncul seolah jadi pidato membosankan. Demokrasi, tanggung jawab
sosial, partisipasi hanya kutipan khutbah yang kering dari
contoh-contoh konkrit. Ide itu bergulir hanya dari buku, ke seminar,
lalu pada pelatihan dan tertinggal dalam teks proposal. Ide itu hanya
jadi seruan para demonstran yang kini kehilanggan massa. Lebih-lebih
kita menyaksikan keringnya tulisan-tulisan cerdas dan jitu dari para
ilmuwan. Ide-ide sosial yang tenggelam ini telah membuat keputusan dan
kebijakan pemerintah hanya memutar-mutar korban. Baik dalam pemotongan
subsidi maupun penanganan bencana alam, pemerintah bersikap sama:
prosedural, berbelit-belit dan memakan korban rakyat miskin. Rakyat
memang dibiarkan sendirian: termangu di tenda dan menunggu-nunggu
harapan.

Sia-sia kita berusaha untuk mencari jalan keluar ketika
lembaga hukum mengalami kematian fungsi. Jika hukum hanya menjadi debat
antara ilmuwan, pekerja hukum dan para pengacara maka keadilan hanya
jadi omong kosong. Kode etik Mahkamah Agung yang memperbolehkan hakim
menerima hadiah seperti aturan keji yang melukai cita-cita keadilan.
Apalagi kalau Mahkamah Agung menyatakan itu sebagai kesalahan ketik;
lagi-lagi itu menjadi tanda bahwa di tubuh kekuasaan tertinggi
peradilan hanya diisi oleh bangkai. Tidak hanya bau kebusukan, karena
tiba-tiba sang Ketua dengan alasan otonomi memperpanjang masa pensiunan
dirinya sendiri. Perangai sang ketua ini seperti menumpuk kotoran yang
selama ini jadi sasaran kritik banyak orang. Tapi begitulah hukum kalau
dijalankan oleh manusia-manusia yang tidak berakal, miskin nurani dan
suka dengan kemegahan. Sinyal keadilan dalam lembaga hukum roboh dan
peradilan hanya jadi ruang tempat harapan dan nurani dibuang.

Berpaling
kita pada gerakan sosial yang menyediakan stok aktivis. Mereka yang
selama ini menjadi barisan kritis dan selalu peka pada derita dan cacat
kekuasaan. Sebagian mereka memang telah mengusir ketergantungan dan
memilih untuk bergerak dalam barisan massa yang padat. Di kalangan
petani, buruh, kelompok miskin akan selalu ada pendamping yang setia
dan gigih melakukan tuntutan. Anak-anak muda ini tidak hanya dibesarkan
oleh pendidikan tapi juga kekecewaan publik. Mereka sebagian ada yang
berlagak tapi sebagian besar ada pula yang dengan gigih melontarkan
tuntutan-tuntutan pedas. Sandaran kepercayaan kalau bangsa ini bisa
beres ada di pundak mereka. Mengikuti jalan para pejuang radikal kini
anak-anak muda ini menyemut di gerakan-gerakan kritis. Pemukiman mereka
di dunia LSM-semoga-hanya sementara, untuk memenuhi, kebutuhan yang
mereka sebut logistik. Wajib bagi mereka untuk segera membasuh
pengetahuan dan terjun di massa dengan agresivitas dan pemahaman yang
lebih berani. Itulah yang menuntut mereka untuk tidak hanya duduk dan
diam memandang perubahan.

Sinyal yang patut mereka jadi sandaran
adalah gagasan tentang perubahan. Teks-teks perubahan sosial tidak
hanya perlu ditelan habis tapi juga memerlukan kerja-kerja konkrit.
Kalau dibilang ekonomi kapitalis itu busuk maka wajib untuk mereka
memberi tauladan pelembagaan ekonomi yang menjamin terwujudnya nilai
keadilan. Jika dinyatakan bahwa militerisme itu kejam maka penting
untuk merumuskan tatanan sosial dimana peran militer menjadi kekuatan
pelindung masyarakat, bukan golongan penindas rakyat. Disini gerakan
sosial memerlukan cermin nyata praktek pelembagaan sosial yang bisa
memenuhi hajat hidup rakyat miskin. Dengan begitu gerakan sosial yang
muncul bukan hanya meyentuh tapi juga menjaring dukungan semua lapisan
karena kerja-kerja konkritnya yang bisa dirasakan. Kutukan kita pada
partai politik yang ada memberi pelajaran penting bagaimana perubahan
sosial tak hanya bisa mengandalkan kebodohan dan kenaifan masyarakat.
Gerakan sosial yang sungguh-sungguh hendaknya menyuntikkan kesadaran
kritis bukan kesadaran naif.

Itu sebabnya bekal penting dan utama
adalah kemandirian dan nyali. Kemandirian yang akan membuat gerakan
sosial ini tidak terantuk dalam kubangan konspirasi institusi global
yang selama ini jadi kritik kita pada dunia LSM. Kemandirian sekaligus
akan membangkitkan nyali kita dari sikap reformis, penuh perhitungan
dan hati-hati. Gerakan sosial bukan sebuah agen perjalanan yang meliput
perkembangan masyarakat dengan gambaran yang datar dan dingin. Tiap
perubahan yang berjalan hanya merupakan sinyal untuk menyalakan lampu
peringatan akan konsep-konsep dasar yang hendak kita bangkitkan.
Masyarakat yang marah, frustasi dan kalah memang perlu diungkit kembali
potensi dan kekuatanya. Itu sebabnya mustahil lahir seorang aktivis
sosial progresif jika beragam kepedihan masyarakat tidak dibaca sebagai
potensi perlawanan. Pembangkangan dan pelucutan status-status sosial
adalah alat ukur kita untuk melihat bagaimana masyarakat memerankan
kemandirianya.

Bangsa ini masih punya harapan selama kekuatan
sosial berani melawan segala bentuk kezaliman publik. Kisah sang ketua
mahkamah yang kotor itu membuat kita punya amsal yang baik tentang
bagaimana busuknya hukum disini. Alibi, dalih dan alasan para anggota
parlemen hanya menambah amunisi kebencian kita pada sistem demokrasi
prosedural. Yang tinggal kini hanya sebuah gerakan sosial, yang meramu
kekecewaan, frustasi dan kekalahan massa menjadi barisan gagah yang
berani menentang pasukan keji. Harapan memang belum sepenuhnya
terbuang, tapi bisa tenggelam kalau kita hanya menjejali rakyat
kepasrahan, kenaifan dan cetusan sikap pengecut. Waktunya kita untuk
menentang semua gejala-gejala busuk kekuasaan yang hanya membangkitkan
kembali beragam bencana sosial. Kita menunggu bangkitnya gerakan sosial
progresif!

POE GIE

February 17th, 2007 by ayam-beranak

SELASA, 11 NOVEMBER 1969

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.

Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.
Atau tentang bunga-bunga yang manis dilembah Mendala Wangi.

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.

Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.

Mari sini sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak ‘kan pernah kehilangan apa-apa.

Soe_hokgie